Oleh Muh. Sauki Maulana
TRIBUN-TIMUR.COM, LUWU – Pengurus Besar Aliansi Masyarakat Adat Nusantara gandeng Samdhana Institute bagikan logistik ke penyintas korban banjir-longsor, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.
Logistik itu menyasar Kecamatan Suli Barat serta Bajo Barat.
Bantuan itu disalurkan melalui Pengurus Wilayah AMAN Tana Luwu.
“Sumber dananya dari PB AMAN, The Samdhana Institute dan donatur. Yang kami salurkan ke anggota komunitas dan warga terdampak,” jelas Ketua Pengurus Wilayah AMAN Tana Luwu, Irsal Hamid, Senin (13/5/2024).
“Suli Barat ada 3 titik, Kelurahan Lindajang, Desa Salubua dan Larandu. Selain anggota komunitas AMAN, logistik juga diserahkan kepada warga terdampak di Bajo Barat,” tambahnya.
Kata Irsal, selain logistik, pihaknya juga menyerahkan peralatan dapur seperti kompor dan tabung gas sebanyak 12 unit.
Kata Irsal, selain logistik, pihaknya juga menyerahkan peralatan dapur seperti kompor dan tabung gas sebanyak 12 unit.
“Penyaluran dilakukan dua kali. Ada kompor 12 unit plus tabung, beras 85 karung berat 5 kilogram, sembako, pakaian layak dan juga tikar,” akunya.
Dirinya juga mengutuk aktivitas tambang yang disinyalir menjadi biang kerok bencana banjir-longsor yang terjadi di Luwu.
“Adanya banjir dan tanah longsor yang dialami masyarakat Tana Luwu tidak terlepas dari aktivitas tambang yang ada di wilayah hulu tepatnya di Kecamatan Latimojong,” bebernya.
“Ditambah adanya aktivitas PT Masmindo. Makanya kami meminta untuk segera menghentikan aktivitas tambang yang ada di sekitaran pegunungan Latimojong. Karena hanya menitipkan bencana banjir dan tanah longsor,” tambahnya.
Terpisah, Kepala Desa Bajo Barat, Andi Baso Setelah menetapkan 5 hari masa tanggap darurat, warga kini berfokus pada rekonstruksi dan pemulihan rumah warga terdampak.
“Kami di Benelomo, sekarang lagi masa masuk fase rekonstruksi setelah masa tanggap darurat yang kami tetapkan 5 hari,” ujarnya.
Baso menambahkan, sebanyak 8 rumah hanyut tersapu banjir bandang di Dusun Benteng Datu.
Sehingga warganya kini, mulai mempersiapkan bahan bangunan untuk membangun rumah baru.
“Sekarang kami mempersiapkan bahan-bahan bagi yang hilang rumahnya. Selain itu, juga ada beberapa warga yang di lokasi rawan bencana minta direlokasi,” bebernya.
“Saat ini masyarakat sedang bergotong-royong membuat papan dan tiang. Kami bertekat melakukan semua itu dengan sumberdaya yang kami miliki,” tambahnya.
Dirinya menambahkan, 24 KK yang rumahnya ludes kini mengungsi di rumah kerabatnya.
“Rumah yang rusak berat itu 9. Rumah yang hanyut 8. Tetapi di dalam rumah hanyut 8 itu, ada rumah ganda. Ada 24 KK yang terdampak yang hilang tempat tinggalnya,” ujarnya.
Menurut Baso, warganya kompak bahu-membahu demi membantu warga yang tertimpa musibah.
Sebab, kata dia, gotong-royong merupakan kebiasaan yang diwariskan nenek moyang di kampungnya.
“Nenek berpesan, kalau ada temannya yang lagi sakit harus dijenguk. Ini semua coba kita lakukan bahu-membahu,” katanya.
FOTO: Pengurus Wilayah AMAN Tana Luwu menyalurkan bantuan ke anggota komunitas di Desa Bonelemo, Kecamatan Bajo Barat, Luwu, Senin (13/5/2024). (TRIBUN-TIMUR/Sauki Maulana)
Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul Pengurus Wilayah AMAN Tana Luwu Salurkan Bantuan ke Penyintas Banjir-Longsor Luwu Sulsel. Penulis: Muh. Sauki Maulana | Editor: Saldy Irawan